Salah satu masalah turun menurunnya bangsa Indonesia adalah rendahnya tingkat tradisi literasi. Yang berbahaya dari menurunnya minat baca adalah meningkatnya minat berkomentar. Semakin sering seseorang membaca maka semakin tajam kemampuannya untuk mengolah informasi, sehingga dapat berdampak signifikan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui kebiasaan membaca sejak dini. Namun, tidak banyak anak bangsa yang tertarik untuk menganggap masalah literasi sebagai masalah serius.
Menurut American Library Association (ALA), literasi informasi merupakan serangkaian kemampuan yang dibutuhkan seseorang untuk menyadari kapan informasi dibutuhkan dan kemampuan untuk menempatkan, mengevaluasi, dan menggunakan informasi yang dibutuhkan secara efektif.
Menurut data statistic dari UNESCO, Indonesia berada pada peringkat 60 dari 61 negara yang telah di survey pada tahun 2017 dan terbilang sangat rendah. UNESCO melaporkan bahwa kemampuan membaca anak-anak di Eropa dalam setahun rata-rata menghabiskan 25 buku, sedangkan Indonesia mencapai titik terendah yaitu 0 %, tepatnya 0,001 %.
Dari data diatas bisa kita bayangkan tingkat literasi dasar orang Indonesia sangat rendah dibanding negara-negara lainnya Berapa jam waktu yang kita habiskan untuk membaca dalam sehari? Jangan-jangan, kita pun belum tergolong insan yang membaca 2-4 jam sehari. Atawa, tengoklah lingkungan sekitar kita, termasuk di ruang terdekat kita, tempat tinggal kita masing-masing, adakah aktivitas membaca minimal 2-4 jam dalam sehari itu? Bukankah yang lebih menonjol adalah kegiatan menonton berjamaah (nobar), berlama-lama larut dalam ocehan khutbah kotak ajaib, TV? Atau sibuk dengan utak-atik, heran bin takjub di gawai masing-masing?
Dalam konteks ini akan menarik jika kita membahas komunitas literasi yang dibangun oleh mahasiswa. Mulai dari publikasi-publikasi melalui media sosial hingga gerakan-gerakan seperti perpustakaan jalanan serta ide-ide gila lainnya yang hanya bermodal nekat hanya untuk menyadarkan kepada orang banyak akan pentingnya minat baca.
Pilihan sekelompok kaum muda mahasiswa ini, untuk bergabung dalam komunitas literasi, bagi orang banyak, mungkin tergolong sebagai keanehan, atau ketidaknormalan. Pasalnya, di masa kini, menjerumuskan diri dalam sebuah komunitas yang melawan arus utama, terkadang hanya dianggap sebagai kesia-sian, kalau bukan buang-buang waktu saja. Sehingga, dapat dipastikan, kelompok seperti ini pastilah jumlah pegiatnya tidak banyak. Hanya segelintir saja yang mau bergabung.
Untuk informasi selanjutnya kita akan membahas salah satu komunitas pegiat Literasi dari mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.. See you!
Menurut American Library Association (ALA), literasi informasi merupakan serangkaian kemampuan yang dibutuhkan seseorang untuk menyadari kapan informasi dibutuhkan dan kemampuan untuk menempatkan, mengevaluasi, dan menggunakan informasi yang dibutuhkan secara efektif.
Menurut data statistic dari UNESCO, Indonesia berada pada peringkat 60 dari 61 negara yang telah di survey pada tahun 2017 dan terbilang sangat rendah. UNESCO melaporkan bahwa kemampuan membaca anak-anak di Eropa dalam setahun rata-rata menghabiskan 25 buku, sedangkan Indonesia mencapai titik terendah yaitu 0 %, tepatnya 0,001 %.
Dari data diatas bisa kita bayangkan tingkat literasi dasar orang Indonesia sangat rendah dibanding negara-negara lainnya Berapa jam waktu yang kita habiskan untuk membaca dalam sehari? Jangan-jangan, kita pun belum tergolong insan yang membaca 2-4 jam sehari. Atawa, tengoklah lingkungan sekitar kita, termasuk di ruang terdekat kita, tempat tinggal kita masing-masing, adakah aktivitas membaca minimal 2-4 jam dalam sehari itu? Bukankah yang lebih menonjol adalah kegiatan menonton berjamaah (nobar), berlama-lama larut dalam ocehan khutbah kotak ajaib, TV? Atau sibuk dengan utak-atik, heran bin takjub di gawai masing-masing?
Dalam konteks ini akan menarik jika kita membahas komunitas literasi yang dibangun oleh mahasiswa. Mulai dari publikasi-publikasi melalui media sosial hingga gerakan-gerakan seperti perpustakaan jalanan serta ide-ide gila lainnya yang hanya bermodal nekat hanya untuk menyadarkan kepada orang banyak akan pentingnya minat baca.
Pilihan sekelompok kaum muda mahasiswa ini, untuk bergabung dalam komunitas literasi, bagi orang banyak, mungkin tergolong sebagai keanehan, atau ketidaknormalan. Pasalnya, di masa kini, menjerumuskan diri dalam sebuah komunitas yang melawan arus utama, terkadang hanya dianggap sebagai kesia-sian, kalau bukan buang-buang waktu saja. Sehingga, dapat dipastikan, kelompok seperti ini pastilah jumlah pegiatnya tidak banyak. Hanya segelintir saja yang mau bergabung.
Untuk informasi selanjutnya kita akan membahas salah satu komunitas pegiat Literasi dari mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.. See you!

Nice Share 🐱
BalasHapus