Bhinneka Tunggal Baca. Ya, itulah nama salah satu pegiat literasi dikalangan mahasiswa Ilmu Perpustakaan dan Informasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Fahdrizal Muftin, Fadjar Dwi Witjaksono, Almory Hasibuan, Luthfi Julizar dan kawan-kawan lainnya lah yang memiliki peran penting dalam terbentuknya komunitas ini. Bhinneka Tunggal Baca adalah komunitas yang bergerak di bidang Literasi Informasi. BTB hadir berawal dari keresahan serta ke khawatiran atas realita kehidupan zaman sekarang. Ide awal komunitas ini yaitu mencukil kutipan penulis Zen Rahmat Sugito "Yang berbahaya dari menurunnya minat baca adalah meningkatnya minat berkomentar" belum lagi ditambah maraknya kasus “hoax” yang terjadi di kalangan masyarakat akibat dari arus informasi yang sangat cepat.
Beberapa persoalan tidak dapat hanya diselesaikan dengan sebuah jawaban, ada yang lebih membutuhkan tindakan daripada sekedar retorika belaka. Dengan berbagai keterbatasan akhirnya lapak baca buku gratis di tempat, menjadi sarana literasi yang autentik untuk di realisasikan. Hari minggu pada Car free day yang berlokasi di Sudirman-HI menjadi ruang publik pilihan mereka, tepatnya disebrang gedung UOB, mereka menjajakan buku beserta tempat baca dengan waktu yang terbatas yaitu mulai pukul 07.30 WIB hingga Car free day usai.
Terbentuk dari tanggal 26 april 2018, kegiatan mereka di dukung oleh akun instagram yaitu @bhinnekatb
Tujuan dari kegiatan ini adalah ingin mengusik pandangan masyarakat bahwasanya membaca yang bagian dari pembelajaran, tidak terbatas hanya diruang kelas atau instansi pendidikan, tetapi dapat dilakukan diruang publik. Seiring sejalan, masyarakat mulai menyadari keberadaan BTB, karena awalnya mereka mengira kegiatan tersebut hanyalah sekedar berjualan buku. Hingga muncul pertanyaan, kalian dapat dana darimana? Siapa yang mendanai kalian? Sebelum orang itu melanjutkan rasa penasarannya, founder BTB bergegas menjelaskannya dengan cara seksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. “Kami berjalan sendiri tanpa bantuan lembaga apapun, kami komunitas mandiri. Untuk koleksi, kami membawa buku bacaan masing-masing penggiat, dan sebagian lainnya kami mendapat donasi dari teman-teman seperjuangan”.
Menggiatkan literasi bukan tindakan sepele, apalagi tanpa resiko. Menggiatkan literasi berarti mulai peperangan, prosesnya panjang butuh keikhlasan, ketulusan, dan yang pasti jangan pernah berharap apapun. Perang ini jenisnya perang mental, tanpa senjata tetapi tidak kalah mematikan.
This is war the guardian of sense versus stupidity, how is the story?
Literasi adalah kegiatan olah pikiran, menjaga akal sehat, meningkatkan kecerdasan karena bertambahnya wawasan. Maka ketika mereka mulai beroperasi, diawali dengan meneror kebodohan beserta keluarga besarnya, termasuk kemalasan, keteledoran, keserakahan dll.
Pandangan masyarakat Indonesia terhadap kegiatan membaca terutama "buku" perlu diperbaiki, karena buku masih dipandang sebelah mata. Bahkan, generasi milenial lebih tertarik dengan gadgetnya. Padahal membaca adalah aspek penting dalam proses belajar, dan buku menjadi rilisan fisik yang tidak akan pernah tergantikan, apalagi untuk kaum intelektual. Keasyikan membaca dengan buku tidak dapat digantikan dengan membaca melalui media lainnya, terutama media digital. Kita memang tidak dapat menentukan arah angin, tetapi kita dapat menyesuaikan layarnya. Karena substansinya adalah membaca bukan bukunya, jadi kita dapat mensiasati semarak membaca dengan pola perilaku kaum milenial.
Kebodohan adalah aib bangsa, jadi jangan ditutupi, tetapi diperbaiki bahkan dihilangkan. Jika keadaan seperti ini tidak dilawan, maka kita tinggal menunggu kehancuran, rusaknya peradaban, dan kondisi negara yang semakin memprihatinkan. Kita sebagai generasi penerus bangsa, harus menyatakan perang, harus melawan, harus marah dengan kondisi sekarang, jangan hanya diam, dan menikmati peperangan yang tak kasat mata ini.
Literasi sederhana adalah kunci untuk mengatasi keterbatasan. Buka lapak baca gratis di tempat menjadi pemantik untuk menarik minat masyarakat. Jangan pernah bertanya apa yang negara telah berikan padamu, tetapi bertanyalah apa yang telah kamu berikan untuk negara. Menyediakan fasilitas membaca, sejauh ini telah memiliki progres yang tepat, perlahan namun pasti, kita tidak sedang jalan di tempat, tetapi kita berusaha maju selangkah walaupun dengan merangkak.
Kegiatan yang sangat bermanfaat ini tentunya perlu di dukung oleh berbagai aspek. Semoga semangat mereka dalam meningkatkan literasi terus meningkat sehingga akan semakin banyak masyarakat sadar dengan pentingnya minat baca daripada minat untuk berkomentar.

Nice Share 🐶
BalasHapusKebodohan harus diberantas!
BalasHapusGils lanjutkan wkwk
BalasHapusmantap bgt anak uinjkt
BalasHapusBermanfaat
BalasHapusBermanfaat
BalasHapus